FASISME, DARWINISME, DAN NAZISME MENURUT KACAMATA HARUN YAHYA

Apakah itu Fasisme?

Fasisme adalah sebuah gerakan politik penindasan yang pertama kali berkembang di Italia setelah tahun 1919 dan kemudian di berbagai negara di Eropa, sebagai reaksi atas perubahan sosial politik akibat Perang Dunia I. Nama fasisme berasal dari kata Latin “fasces‘, artinya kumpulan tangkai yang diikatkan kepada sebuah kapak, yang melambangkan pemerintahan di Romawi kuno. Istilah ―fasisme pertama kali di gunakan di Italia oleh pemerintahan yang berkuasa tahun 1922-1924 pimpinan Benito Mussolini. Dan gambar tangkai-tangkai yang diikatkan pada kapak menjadi lambang partai fasis pertama. Setelah Italia, pemerintahan fasis kemudian berkuasa di Jerman dari 1933 hingga 1945, dan di Spanyol dari 1939 hingga 1975. Setelah Perang Dunia II, rezim-rezim diktatoris yang muncul di Amerika Selatan dan negara-negara belum berkembang lain umumnya digambarkan sebagai fasis.

Ilustrasi Simbol Fasisme
sumber:www.google.com


Fasisme merupakan sebuah ideologi yang berakar di Eropa. Pondasi fasisme dibangun oleh sejumlah pemikir Eropa pada abad ke-19, dan dipraktikkan pada abad ke-20 oleh negara-negara seperti Italia dan Jerman. Gagasan utama di balik fasisme adalah ide Darwinis mengenai konflik dan perang. Darwinisme menegaskan bahwa ―yang kuat bertahan hidup, yang lemah punah, yang karenanya berpandangan bahwa manusia harus berada dalam perjuangan terus-menerus untuk dapat bertahan hidup. Karena dikembangkan dari gagasan ini, Mitos evolusi, sebuah warisan dari paganisme Sumeria dan Yunani, memasuki kancah pemikiran Barat melalui karya Charles Darwin The Origin of The Species, yang diterbitkan tahun 1859. Dalam buku ini, sebagaimana dalam buku The Descent of Man, ia membahas konsep-konsep pagan tertentu yang telah menghilang di Eropa dibawah dominasi Kristen, dan membuat ― pembenaran bagi konsep-konsep tersebut dengan kedok ilmu pengetahuan. Kita dapat menguraikan konsep-konsep pagan yang ia coba benarkan, hingga menjadi dasar-dasar bagi perkembangan fasisme, sebagai berikut:

1) Darwinisme memberikan justifikasi bagi rasisme

Sebagai subjudul dari The Origin of the Species, Darwin menulis: “ The Preservation of F avoured Races in The Struggle for Life (K eberlanjutan Ras-Ras Pilihan dalam Perjuangan untuk Hidup). Dengan kata-kata ini, Darwin mengklaim bahwa ras tertentu di alam lebih ― pilihan daripada yang lainnya, dengan kata lain, bahwa mereka lebih unggul. Ia mengungkapkan dimensi gagasan-gagasannya mengenai ras manusia dalam The Descent of Man, di mana ia menulis bahwa orang kulit putih lebih unggul daripada ras-ras lain seperti Afrika, Asia,dan Turki, serta diperbolehkan memperbudak mereka.

2) Darwinisme memberikan justifikasi bagi pertumpahan darah

Sebagaimana telah disebutkan, Darwin mengemukakan bahwa ―perjuangan untuk bertahan hidup yang mematikan terjadi di alam. Ia menyatakan bahwa prinsip ini berlaku baik pada masyarakat maupun individu, prinsip ini adalah suatu perjuangan sampai mati, dan sangat wajar bila ras-ras yang berbeda berusaha untuk saling melenyapkan demi kepentingan masing-masing. Singkatnya, Darwin menggambarkan sebuah arena dimana satu-satunya aturan adalah kekerasan dan konflik, dan dengan demikian menggantikan konsep-konsep perdamaian, kerja sama, pengorbanan diri, yang telah menyebar di Eropa dengan kedatangan agama Kristen. Jadi, Darwinisme menghidupkan kembali ide ― arena sebuah pertunj ukan kekerasan yang ditemukan di dunia pagan (Kekaisaran Roma).

3) Darwinisme membawa kembali konsep egenetika ke dalam pemikiran Barat:

Konsep mempertahankan keunggulan rasial melalui pemeliharaan keturunan, yang dikenal sebagai egenetika, yang dilakukan bangsa Sparta dan dibela Plato dengan kata-katanya, ―Para atlet-prajurit kita haruslah waspada seperti anjing penjaga, muncul kembali di dunia Barat melalui Darwinisme. Darwin menyediakan seluruh bab dalam The Origin of the Species untuk membahas ― perbaikan ras-ras hewan, dan dalam The Descent of Man ia mempertahankan pendapatnya bahwa manusia adalah suatu spesies hewan. Tak lama kemudian, keponakan Darwin, Francis Galton,mengembangkan klaim pamannya selangkah lebih maju, dan mengemukakan teori egenetika modern. (Nazi Jerman selanjutnya menjadi negara pertama yang menerapkan egenetika sebagai kebijakan resmi).

Teori Darwin tampaknya hanyalah konsep mengenai ilmu pengetahuan biologi, tetapi sesungguhnya teori ini membentuk dasar-dasar untuk cara pandang politis yang benar-benar baru. Tak berapa lama,pandangan ini di definisikan ulang sebagai ―Darwinisme Sosial. Dan sebagaimana telah diakui banyak sejarawan, Darwinisme Sosial menjadi dasar ideologis bagi fasisme dan Nazisme.

Charles Darwin
sumber:www.google.com

Fasisme membangkitkan kepercayaan bahwa suatu bangsa hanya dapat maju melalui perang, dan memandang perdamaian sebagai bagian yang memperlambat kemajuan. Fasisme merupakan ideologi nasionalistik dan agresif yang didasarkan pada rasisme. Nasionalisme semacam ini sama sekali berbeda dari sekadar kecintaan pada negara. Dalam nasionalisme agresif pada fasisme, seseorang mencita-citakan bangsanya menguasai bangsa-bangsa lain, menghinakan mereka, dan tidak menyesali timbulnya penderitaan hebat terhadap rakyatnya sendiri dalam prosesnya. Selain itu, nasionalisme fasistik menggunakan peperangan, pendudukan, pembantaian, dan pertumpahan darah sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan politis tersebut. Sebagaimana halnya yang mereka lakukan untuk menguasai bangsa-bangsa lain, rezim fasis juga menggunakan kekuatan dan penindasan terhadap bangsa mereka sendiri. Dasar kebijakan sosial fasisme adalah pemaksaan gagasan, dan keharusan rakyat menerimanya.

Fasisme bertujuan membuat individu dan masyarakat berpikir dan bertindak seragam. Untuk mencapai tujuan ini, fasisme menggunakan kekuatan dan kekerasan bersama semua metode propaganda. Fasisme menyatakan siapa pun yang tidak mengikuti gagasan-gagasannya sebagai musuh, bahkan sampai melakukan genocide (pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan atau bangsa), seperti dalam kasus Nazi Jerman.

Bagaimana Fasisme berkembang dan “bertahan hidup”?

Secara umum, fasisme memanfaatkan kondisi kekacauan dan ketidakstabilan dalam sebuah negara untuk menunjukkan diri kepada rakyat sebagai ideologi penyelamat. Begitu pemerintahan fasis terbentuk, rakyat dikendalikan dengan kombinasi ketakutan, penindasan, dan teknik-teknik cuci otak. Terdapat banyak persamaan pada latar belakang sosial dan psikologis di mana negara fasisme terbentuk. Sebagian besar negara-negara tersebut kalah dan rusak parah dalam Perang Dunia I, hingga rakyatnya sangat lemah dan letih, banyak yang kehilangan suami, istri, anak-anak dan orang-orang yang mereka cintai dalam perang. Negara-negara tersebut juga tertimpa kesulitan ekonomi, politik, dan perasaan meluas bahwa bangsa mereka mengalami keruntuhan. Rakyat menderita secara material; partai-partai yang beragam itu tak mampu mengatasi masalah-masalah bangsa, di samping berkelahi di antara mereka sendiri.

Semisal, kemiskinan Italia akibat perang Dunia I adalah faktor terpenting dalam perkembangan kekuasaan fasisme. Lebih dari 600.000 orang Italia tewas akibat perang itu, dan hampir setengah juta orang menjadi cacat. Bagian terbesar dari populasi terdiri dari para janda yatim piatu. Negara itu tertekan oleh resesi ekonomi dan angka pengangguran yang tinggi.

Spanyol pra-fasis juga menunjukkan kesamaan dengan negara-negara ini. Hilangnya koloni-koloni Spanyol di kedua sisi benua Amerika pada awal abad ke-19 telah membuat harga dirinya merosot tajam. Pada awal abad ke-20, Spanyol sudah setengah runtuh. Perekonomiannya jatuh, dan hak-hak istimewa yang didapat oleh kaum aristokrat membuka jalan bagi ketidakadilan. Bangsa Spanyol mengenang masa lalunya yang agung dan kuat dengan kerinduan mendalam.

Negara lain yang sangat dipengaruhi oleh fasisme adalah Jepang. Pada masa Jepang pra-fasis, lapisan masyarakat yang lebih tinggi sangat kuatir dengan perkembangan Marxisme di kalangan anak muda. Tetapi mereka tak mampu menentukan bagaimana menyingkirkan ideologi yang merusak itu. Selain itu,perubahan-perubahan sosial seperti itu sangat membingungkan bagi masyarakat yang begitu terikat dengan tradisinya. Ikatan kekeluargaan melonggar, angka perceraian meningkat, rasa hormat kepada kaum tua terkikis, adat dan tradisi ditinggalkan, kecenderungan individualis mulai muncul, kemerosotan di kalangan pemuda mencapai tingkat yang menyedihkan, dan angka bunuh diri mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan. Dalam kondisi-kondisi seperti ini, stabilitas masyarakat Jepang di masa depan dianggap dalam bahaya. Semua hal di atas membawa mereka kepada kenangan masa lalu. Kerinduan akan masa-masa kejayaan dahulu dan usaha-usaha untuk membangkitkannya, merupakan jebakan awal bagi rakyat yang membawa mereka terjerat sepenuhnya oleh rezim fasis.

Ilustrasi Perang Dunia I
sumber:www.google.com

Faktor lain yang membuka jalan bagi fasisme adalah kebodohan dan rendahnya pendidikan dalam banyak masyarakat. Pendidikan mengalami kemunduran hebat selama kekacauan Perang Dunia I. Banyak sekali kaum muda terpelajar yang tewas dalam medan perang. Pada umumnya, hal ini mengakibatkan kemunduran tingkat kebudayaan dalam masyarakat. Sebagian besar pendukung fasisme adalah kaum tak terpelajar, mereka berjuang atas nama fasisme, dan menjadi pion bagi kebijakankebijakan chauvinistiknya. Karena, ide-ide fundamental yang mendasari fasisme (yakni rasisme, nasionalisme romantik, chauvinisme, dan fantasi) hanya dapat diterima luas oleh kalangan tak terpelajar, yang mudah terbujuk oleh slogan-slogan mentah dan sederhana.

Fasisme mencapai kesuksesan pertama kalinya di Italia. Mussolini mengambil keuntungan dari tekanan-tekanan sosial dan kerinduan di kalangan rakyat Italia akan perubahan. Setelah perang, Mussolini memobilisasi para mantan tentara, pengangguran dan mahasiswa, dengan slogan-slogan yang meneriakkan kembalinya masa-masa kejayaan Romawi kuno. Mussolini mengorganisir para pendukungnya, yang dikenal sebagai “Kemeja Hitam” dalam sebuah format semi -militer, dan memiliki metode-metode yang dibangun dengan kekerasan.

Ada sebuah kekhasan yang sangat buruk pada fasisme dan Nazi Jerman ialah usaha untuk mencuci otak rakyatnya. Program ini dibangun dengan dua unsur dasar, yakni edukasi dan propaganda. Dalam Mein Kampf, Hitler menulis,:

Propaganda adalah sebuah alat, dan karenanya harus dinilai dengan melihat tujuannya… Propaganda dalam Perang ini merupakan suatu alat untuk mencapai sebuah tujuan, dan tujuan itu adalah perjuangan demi eksistensi rakyat Jerman; karenanya, propaganda hanya dapat dinilai sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku untuk perjuangan ini. Dalam hal ini, senjata-senjata yang paling kejam menjadi beradab bila mereka mampu membawa kemenangan yang lebih cepat… Semua propaganda haruslah bersifat umum dan tingkat intelektualnya harus disesuaikan dengan kecerdasan terendah di antara sasaran propaganda. Maka dari itu, semakin besar massa yang ingin diraih, harus semakin rendah tingkat intelektual.

Sebuah contoh menarik tentang usaha-usaha fasisme untuk mencuci otak masyarakat adalah upacara-upacara pembakaran buku pada Jerman Nazi. Hal ini pertama kali dilakukan pada 10 Mei 1933. Para mahasiswa dari berbagai universitas Jerman, yang sebelumnya telah diakui sebagai yang terbaik di dunia,berkumpul di Berlin dan kota-kota Jerman lainnya, dan membakar buku-buku yang berisi pemikiran-pemikiran “non-Jerman”. Ribuan buku dibakar, disertai penghormatan Nazi, lagu-lagu dan musik kemiliteran.

Taktik lain yang digunakan oleh semua rezim fasis adalah menyembunyikan sejarah yang benar dari masyarakat, dan menggantikannya dengan pengajaran sebuahversi khayalan yang mereka tulis sendiri. Tujuanmya adalah untuk membangun sebuah budaya di mana pemikiran-pemikiran kaum fasis dapat berkembang dengan pesat, yang memungkinkan mereka menjadi lebih populer dan lebih kuat mengakar dalam masyarakat. Pemahaman tentang sejarah, juga filsafat, sepanjang proses pendidikan diawasi ketat oleh negara fasis. Karena dididik dengan sistem itu, rakyat sama sekali tak menyadari bahwa mereka sedang dicuci otak dalam ideologi fasis,dan bahwa semua pemikiran lain disensor sepenuhnya.

Apa yang menjadi karateristik Fasisme?

Bagian paling penting dalam fasisme adalah sang pemimpin, yang namanya ditonjolkan dalam setiap aspek kemasyarakatan. Rezim Hitler, Mussolini dan Franco adalah contoh nyata hal ini. Gelar-gelar yang digunakan para diktator ini, “Der Führer,” “Il Duce”, atau “El Caudillo”, semuanya menyiratkan hal yang sama―Pemimpin yang mengetahui segal anyal. Dan, memang, ketiganya menjalankan pemerintahan masing-masing sepenuhnya berdasarkan keinginan-keinginan mereka sendiri, sementara kolega-kolega terdekat dan perwira-perwira paling senior mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan

Fasisme tentu saja tidak semata-mata terdiri dari sang pemimpin dan kelompok fasis di sekitarnya. Dalam fasisme Nazi Jerman dan Italia,terdapat dukungan umum yang luar biasa terhadap rezim. Dukungan ini didapatkan dengan sejumlah cara. Rezim-rezim fasis tidaklah sekadar ”otoriter”, yang membungkam rakyatnya; mereka juga “totaliter”. Ciri khas utama yang menjadi daya tarik ideologi fasis bagi rakyatnya dalam sistem totaliter adalah ―romantisme ekstrem‖. Orang-orang yang punya perasaan romantis dan irasional atau keterikatan emosional terhadap cita-cita dan gerakangerakan pada zaman mereka atau dalam sejarah sangat mudah diarahkan dan dimanipulasi, dan bahkan dapat diprovokasi untuk melakukan kejahatan. Jika orang seperti itu berhasil diyakinkan bahwa kekejaman yang diwajibkan atas mereka dilakukan dengan alasan-alasan sakral, seperti ―keunggulan ras mereka sendiri‖, tidak ada batas bagi ketidakadilan yang mereka dapat diperdaya untuk melakukannya. Rezim fasis menyadari hal ini, dan mengerahkan segala upaya agar rakyatnya tetap berada dalam kondisi kegairahan emosional yang irasional dan pergolakan. Mereka mempertunjukkan apa yang tampak sebagai nilai-nilai sakral kepada rakyat dan mendorong mereka mengorbankan diri demi negara, merendahkan bangsa atau ras lain, dan bahkan untuk menyiksa dan membunuh.

Perang dan kekerasan, dua unsur yang lebih fundamental dalam fasisme, adalah konsep-konsep pagan yang coba digambarkan oleh fasisme sebagai nilai-nilai sakral. Tujuan agama-agama ketuhanan adalah untuk menciptakan sebuah masyarakat dan dunia yang bebas dari kekerasan dan perang; sedangkan bagi fasisme, perang adalah kebajikan itu sendiri. Fasisme percaya bahwa rakyat mendapatkan kehormatan dan kekuatan dari berperang dan membunuh. Sudah tentu, keyakinan ini mengobarkan lebih banyak perang dan pertumpahan darah. Fasisme terus-menerus mempersiapkan kekejian dan banjir darah yang baru.

Semua negara fasis menciptakan musuh-musuh imajiner, dan menyatakan perang habis-habisan terhadap mereka. Kediktatoran menguat melalui peliputan media secara berulang-ulang setiap hari tentang berbagai kemenangan gemilang atas musuh. Dan hal ini membangkitkan keyakinan bahwa ― demi melindungi rakyat dari bahaya besar ini, perlu berlaku kasar dan kejam terhadap lawan. Rezim fasis terus berkuasa berkat gagasan umum tentang ―kita dan mereka dan musuh-musuh imajiner ini. Dengan demikian, ada pembenaran untuk pengikisan kekuatan hukum, pelanggaran hak asasi manusia, dan terorisme oleh negara. Mereka yang mengkritik fasisme dengan sendirinya dituduh bekerja sama dengan si musuh imajiner.

Salah satu ciri yang paling nyata dalam negara fasis adalah kecurigaan terhadap rakyatnya sendiri, dan usaha untuk menyingkirkan semua orang yang dicurigai dengan cara-cara yang kejam, bahkan hingga membunuh. Hampir semua rezim fasis membentuk kekuatan ―polisi rahasia. untuk mengontrol rakyatnya dan membabat kelompok oposisi.

Adolf Hitler
sumber:www.google.com

Ciri khas lain yang tanpanya Fasisme tidak akan mampu bertahan adalah politik ekspansi dengan cara menduduki negara lain. Dasar politik invasi ini adalah rasisme,dan konsep ― perjuangan untuk bertahan hidup di antara ras-ras, sebuah warisan dari Darwinisme. Negara-negara fasis percaya bahwa untuk berkembang sebagai sebuah bangsa, mereka harus menguasai bangsa-bangsa lain yang lebih lemah, dan tumbuh dengan mengisap mereka. Menurut cara berpikir fasis, manusia hanya bisa maju dengan melibatkan diri didalam peperangan. Oleh karena itu, “militerisme” adalah karakteristik fasisme yang paling menentukan. Untuk mendorong semangat perang ini, partai -partai fasis berusaha untuk mengesankan rakyat dengan pakaian-pakaian seragam dan upacara-upacara yang megah. Dalam ucapan Mussolini, “Fasisme… tidak percaya pada kemungkinan ataupun kegunaan perdamaian abadi. Hanya perang yang membangkitkan seluruh energi manusia hingga ke tingkat tertinggi dan memberi martabat bagi orang yang punya keberanian untuk mencapai nya.”

Ada aspek yang sangat penting dari fasisme, namun tak banyak orang yang mengetahuinya. Fasisme memiliki sikap permusuhan terhadap wanita, dan menganggap wanita lebih rendah dari pria.Fakta ini terlihat dari ucapan dan pernyataan-pernyataan para pemimpin fasis abad ke-20. Sebagai contoh, pernyataan Mussolini kepada Maurice de Valeffe,seorang reporter media Prancis Journal, tanggal 12 November 1922, yang secara terbuka meremehkan kaum wanita. Permusuhan terhadap perempuan yang telah kita telaah sejauh ini sebenarnyamerupakan manifestasi kecenderungan bawah sadar yang kelam. Fasisme menyamakan perasaan-perasaan seperti cinta, belas kasih dan rasa sayang dengan kewanitaan, dan karenanya dianggap tercela. Di sisi lain, kecenderungankecenderungan seperti suka perang, haus darah dan kebengisan dipandang sebagai sesuatu yang khas―kelaki-lakian, dan karenanya ―kejantanan diangkat ke posisi keramat. Ketika mitos fasisme tentang ―kejantanan diteliti lebih dalam lagi, kita akan temukan homoseksualitas tersembunyi di dalamnya. Ini memang tidak banyak diketahui, namun hubungan penting antara fasisme dan homoseksualitas dapat ditelusuri hingga ke Zaman Sparta kuno. 

Scott Lively dan Kevin Abrams dalam buku mereka The Pink Swastika: Homosexuality in the Nazi Party (Swastika Merah Muda: Homoseksualitas dalam Partai Nazi), sebuah kajian berskala besar. Buku ini mengupas berbagai gerakan dan organisasi pra-Nazi, juga kepemimpinan Partai Nazi, serta mengungkap fakta bahwa terdapat begitu banyak kaum homoseksual di dalamnya. Dengan dokumentasi historis, buku ini menjelaskan bagaimana kebijakan Nazi mengumpulkan para homoseksual dan mengirim mereka ke kamp-kamp konsentrasi hanyalah untuk pertunjukan, dan bahwa dengan melakukan itu, para pemimpin Nazi senior berusaha untuk menutup-nutupi perbuatan mereka. Di antara Nazi homoseksual yang terkenal adalah kepala SA Ernst Röhm, kepala Gestapo Reinhard Heydrich, kepala Luftwaffe Herman Goering, Rudolf Hess, pemimpin organisasi Hitlerjugend (Pemuda Hitler) Baldur von Schirach, Menteri Keuangan Nazi Jerman Walther Funk, and komandan angkatan darat Freiherr Werner von Fritsch.

*Sebuah ringkasan buku, Harun Yahya, Menyingkap Tabir Fasisme,(T.p. : T.t),hlm.1-51. 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s