FASE AWAL KEDATANGAN ORANG-ORANG EROPA DI BUMI NUSANTARA (INDONESIA) 1509-1620 M [BAGIAN I]

Pengaruh orang-orang Eropa saat fase awal kehadiran mereka di Nusantara tidaklah terlalu besar. Eropa saat itu bukanlah kawasan yang paling maju di dunia pada awal abad XV M. Kekuatan besar dan maju saat itu masih berada di dunia Islam terutama saat takluknya Konstantinopel pada tahun 1453 M oleh orang Turki Ottoman dan di ujung timur seperti Nusantara dan Filipina agama Islam cukup berkembang pesat. Perlahan, orang-orang Eropa mengalami kemajuan di bidang teknologi pelayaran, pengetahuan geografi dan astronomi sehingga mereka mulai menjadi pelaut-pelaut yang mahir. Bangsa Portugis memulai usaha pelayaran dan petualangannya dilatarbelakangi oleh keadaan Eropa saat itu. Di Eropa perdagangan rempah dikuasai dan dimonopoli oleh para pedagang Islam melalui Laut Tengah. Padahal, rempah-rempah seperti garam, cengkih, lada, buah pala dan bunga pala merupakan kebutuhan orang-orang Eropa saat itu untuk perawatan hewan ternak dan mengawetkan daging-dagingnya terutama saat musim dingin tiba. Di sisi lain, Nusantara adalah penghasil komoditi tersebut sehingga menjadi ‘buruan’ semua bangsa tak terkecuali Bangsa Portugis.

Ilustrasi Kedatangan Orang-Orang Eropa Ke Nusantara
sumber:www.google.com

Ekspedisi Bangsa Portugis di Malaka

Pada tahun 1487 M, Bartolomeu Dias berlayar mengitari Tanjung Harapan dan memasuki perairan Samudra Hindia. Ekspedisi dilanjutkan oleh Vasco Da Gama di tahun 1497 M yang sampai di India. Bangsa Portugis menyadari bahwa mereka gagal bersaing jika masih menggunakan cara ‘lembut’ untuk menguasai perdagangan. Oleh karenanya bangsa Portugis mulai menggunakan cara ‘keras’ yakni peperangan untuk menguasai perdagangan laut. Alfonso de Albuquerque (1459-1515 M) adalah orang yang bertanggungjawab atas cara tersebut. Pada tahun 1503 M, ia berangkat menuju India memimpin angkatan lautnya. Dia berhasil menaklukkan Goa di pantai barat  pada tahun 1510 M dan membangun pangkalan tetap disana. Sasaran selanjutnya yang paling penting ialah daerah ujung timur perdagangan Asia di Malaka.

Pada bulan April 1511 M, Albuquerque berangkat menuju Malaka dengan membawa pasukannya kira-kira 1200 orang dan 17-18 buah kapal. Peperangan dimulai sejak awal kedatangannya di Malaka sejak bulan Juli hingga awal bulan Agustus. Malaka berhasil ditaklukan dan  Albuquerque tinggal disana hingga bulan November 1511 M untuk mempersiapkan pertahanan Malaka dari serangan balasan orang-orang Melayu. Namun, ada satu hal penting yang belum dikuasai oleh Portugis yakni cara ‘berdagang’ untuk menguasai perdagangan Asia. Mereka kesulitan mengatur kebutuhannya sendiri dan sangat tergantung kepada para pemasok bahan makanan dari Asia sehingga menyebabkan kekurangan dana dan sumber daya manusia. Organisasi dan perintah-perintah saling tumpang tindih, tidak efisien, membingungkan  dan korupsi menggerogoti internal bangsa Portugis saat menguasai Malaka. Akibatnya para pedagang Asia lain banyak yang mengalihkan dan menghindari monopoli Portugis.

Malaka dibawah kekuasaan Portugis dapat dikatakan gagal menjadi kekuatan yang revolusioner dalam jaringan perdagangan dunia. Konflik yang terjadi di Selat Malaka juga masih terjadi hingga kurun waktu pertengahan kedua abad XVI M antara Johor, Aceh dan bangsa Portugis. Kota ini mulai kehilangan tajinya karena tidak menjadi pusat perdagangan Asia saat dikuasai bangsa Portugis. Portugis hanya mengacaukan  organisasi sistem perdagangan Asia sehingga tidak ada lagi pelabuhan pusat. Dampak yang ditimbulkan oleh bangsa Portugis ini membuat Malaka tidak lagi ‘diminati’ oleh para pedagang Asia lain.

Ekspedisi Bangsa Portugis di Maluku

Pada tahun 1512 M bangsa Portugis mengirimkan misi penyelidikan ke arah timur setelah Malaka berhasil ditaklukkan. Misi ini dibawah pimpinan Francisco Serrao. Dia berhasil mendarat di Hitu (ambon sebelah Utara) meskipun kapalnya mengalami kerusakan. Pada saat itu pelayaran dari Jawa dan Malaya masih dikurangi.  Di sana Francisco Serrao mendapatkan simpati penguasa daerah yang saat itu pula ada kemungkinan persaingan Ternate dan Tidore. Portugis secara umum disambut baik oleh penduduk disana karena membawa keterampilan perang, bahan pangan dan membeli rempah-rempah mereka. Portugis mengadakan persekutuan dengan Ternate pada tahun 1522 M dan membangun sebuah benteng disana.     

Hubungan diantara mereka berubah menjadi tegang manakala bangsa Portugis secara samar-samar melakukukan upaya kristenisasi dan sikap kurang sopannya orang-orang Portugis dalam kesehariannya. Pada tahun 1575 M, orang-orang Portugis diusir dari Ternate sehingga mereka pindah ke daerah Tidore dan membangun benteng baru pada tahun 1578 M. Namun, justru daerah Ambon yang menjadi daerah utama kegiatan-kegiatan Portugis di Pulau Maluku ini. Ternate berkembang menjadi kerajaan yang gigih menganut Islam dan anti Portugis terutama dibawah pemerintahan Sultan Baab Ullah (1570-1583 M).

Ilustrasi Misionarisme Portugis
sumber:www.google.com

Pengaruh orang-orang Portugis di Maluku cukup signifikan. Pada tahun 1560-an Masehi ada sekitar 10.000 orang Katholik di wilayah ini yang sebagian besar berdomisili di Ambon bahkan di tahun 1590-an sudah ada 50.000-60.000 orang. Tokoh yang sangat berpengaruh dalam misionarisme ini ialah Santo Francis Xavier (1506-1552 M) dan Santo Ignatius Loyola. Usaha kaum misionaris berlangsung pada tengahan kedua abad XVI M. Bangsa Portugis juga meninggalkan beberapa ciri kebudayaan mereka di Maluku. Hal itu semisal, balada-balada keroncong romantis dan iringan gitar asal Portugis. Adapun Bahasa seperti kata-kata, pesta, sabun, sepatu, bendera, meja, minggu dan lainnya yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Bahkan, di Ambon masih ditemukan nama-nama keluarga Portugid seperti da costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendoza dan lainnya.

Keberadaan bangsa Portugis di Malaka dan Maluku memiliki pengaruh yang besar. Pengaruh yang paling besar dan paling kekal dari kedatangan bangsa Portugis di Nusantara ada dua. Pertama,  kacaunya jaringan perdagangan Asia akibat ditaklukkannya Malaka oleh mereka. Kedua, penanaman agama Katholik di Maluku beserta ciri budaya orang-orang Portugis di sana. Bangsa Portugis bukanlah satu-satunya orang-orang Eropa yang datang ke Nusantara. Setelahnya, datanglah orang-orang Belanda yang mewarisi aspirasi dan strategi bangsa Portugis. Belanda datang ke Nusantara membawa organisasi, peresenjataan, kapal-kapal, dan dukungan keuangan yang lebih baik meskipun tujuannya sama yakni ‘penjajahan’, monopoli dan kolonialisme.

*Sebuah ringkasan buku karya M.C.Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowidjono, (Yogyakarta: UGM Press, 2011), hlm.31-37.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s