FASE AWAL KEDATANGAN ORANG-ORANG EROPA DI BUMI NUSANTARA (INDONESIA) 1509-1620 M [BAGIAN II]

Orang-orang Belanda datang ke bumi Nusantara setelah bangsa Portugis. Orang-orang Belanda melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Portugis, yakni mendirikan koloni di Jawa. Hal inilah yang cukup membedakan dari cara mereka menguasai Nusantara. Latar belakang Belanda ditandai dengan Perang kemerdekaan bangsa Belanda melawan Spanyol pada tahun 1560-an Masehi hingga 1648 M. Hal ini membawa perubahan-perubahan besar. Pada masa tersebut Perserikatan Provinsi-Provinsi Negeri Belanda (yang terpenting Holland dan Zeeland) melebarkan sayap ke seberang lautan. Orang-orang Belanda berperan sebagai perantara penjualan rempah eceran dari Portugal ke Eropa Utara. Perang mengacaukan jalur perdagangan ini. Hal tersebut justru menjadi motivasi untuk mencari rempah-rempah sendiri ke Asia. Perpindahan penduduk akibat perang dan orang-orang Belanda yang sebagian besar adalah penganut Calvinisme turut menambah persaingan dagang dan kebencian terhadap Spanyol dan Portugis yang umumnya beragama Katholik.

Ilustrasi Kedatangan Belanda di Nusantara
sumber:www.google.com

Pada awalnya orang-orang Portugis berusaha merahasiakan rincian-rincian jalur pelayaran ke Asia. Namun, info tetap dapat diperoleh karena ada orang Belanda yang bekerja untuk mereka. Jan Huygen van Linschoten adalah salah satunya. Ia menerbitkan buku, Itinerario near Oost ofte Portugaels Indien (Catatan Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis) yang memuat peta-peta deksripsi-deskripsi yang rinci mengenai penemuan-penemuan Portugis itu. Orang-orang Belanda saat itu pun mulai meningkatkan pengetahuan dan teknologi tentang kapal dan persenjataan untuk menandingi kekuatan Portugis di Asia.

Ekspedisi Belanda ke Nusantara

Pada tahun 1595 M ekspedisi pertama Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman siap berlayar ke Hindia Timur dengan 4 buah kapal, 249 awak kapal, 64 pucuk Meriam. Namun, kepemimpinannya yang kurang cakap menyebabkan banyak perselisihan. Ekspedisi ini mengalami banyak penderitaan dan wabah penyakit sehingga hanya 3 kapal dan 89 awak kapal saja yang dapat kembali ke negeri Belanda. Pada bulan Juni 1596 M kapal-kapal de Houtman mendarat di Banten, sebuah pelabuhan lada terbesar di Jawa Barat saat itu. Konflik dengan penduduk sekitar menyebabkan de Houtman tidak lama di Banten sehingga ia berlayar lagi ke timur menyusuri Pantai Utara Jawa. Di Sidayu ia kehilangan 12 awak kapalnya dan di pantai Madura berkonflik dengan penguasa lokal. Pada tahun 1597 M, de Houtman kembali ke negeri Belanda dengan membawa banyak rempah-rempah untuk menunjukkan keberhasilan mereka meskipun banyak awak yang mati dalam ekspedisi ini.

Pasca ekspedisi tersebut dimulailah zaman pelayaran-pelayaran liar (wilde vaart) oleh perusahaan-perushaan ekspedisi Belanda untuk bersaing mendaptkan rempah-rempah Nusantara. Pada tahun 1958 M, terdapat 22 buah kapal milik 5 perusahaan berbeda yang mengadakan pelayaran dan hanya 14 kapal yang akhirnya kembali. Keuntungan banyak diperoleh dari pelayaran-pelayaran ke negeri penghasil rempah semisal perjalanan Jacob van Neck ke Maluku membawa rempah-rempah sehingga untung 400 persen. Di tahun 1601 M bahkan ada 14 perusahaan ekspedisi yang berbeda melakukan pelayaran.

Pada akhir abad XVI M dan awal abad XVII M ini, ada empat perwakilan dagang Belanda yang bersaing di Banten. Persaingan dagang tersebut menyebabkan kenaikan harga rempah dan semakin banyaknya rempah di Eropa sehingga keuntungan semakin kecil. Permasalahan ini membuat parlemen Belanda mengajukan usulan untuk menjadikan berbagai perseroan tersebut membentuk suatu fusi dagang. Pada akhirnya dibentuklah, Perserikatan Maskapai Hindia Timur, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) di bulan Maret 1602 M.

Ilustrasi Logo Maskapai Dagang VOC
sumber:www.google.com

Perserikatan Maskapai VOC ini merupakan sistem majelis (kamer) untuk 6 wilayah di negeri Belanda. Setiap majelis memiliki sejumlah direktur yang disetujui dan berjumlah 17 orang yang disebut sebagai Heeren XVII (Tuan-tuan Tujuh Belas). Adapun wilayah Amsterdam dikecualikan karena memiliki peranan yang besar sehingga memiliki 8 orang wakil dari ketujuh belas direktur. Amsterdam juga menjadi markas besar VOC. Berdasarkan sebuah oktroi yang diberikan parlemen, VOC berwenang untuk mendaftar personel, berperang, membangun benteng, dan mengadakan perjanjian di seluruh Asia.

VOC merupakan organisasi milik Belanda akan tetapi sebagian besar personelnya bukanlah orang Belanda melainkan orang-orang Eropa umum yang ingin mengucapkan sumpah setia. Bahkan dari mereka merupakan penjahat, gelandangan, petualang, penganggguran dari Eropa. Di tahun pertama VOC ditangani oleh Tuan-tuan XVII, namun mereka menyadari bahwa akan sangat kesulitan mengelolan pelaksanaan tugas harian di Asia. Pada masa awal ini keuntungan ekonomi cukup besar namun hanya sedikit keberhasilan militer dalam persaingannya dengan bangsa Portugis dan Spanyol. Satu-satunya keberhasilan besar VOC di masa ini ialah pendudukan atas Ambon tahun 1605 M.

Konflik Belanda dan Bangsa Eropa lain

Pada akhir abad XVI M orang-orang Portugis di Ambon mulai terancam sejak kedatangan bangsa Belanda di daerah tersebut meskipun memenangkan pertempuran laut yang besar di Teluk Ambon tahun 1600 M. Belanda ikut menambah konflik antar penguasa lokal karena bergabung dengan penduduk Hitu dalam persekutuannya melawan Portugis. Pada tahun 1602 M bangsa Portugis meminta bala bantuan dari pasukannya di Malaka untuk membantu memepertahnkan dan mnguasai kembali willayah Maluku. Namun, pada bulan Februari 1605 M suatu armada VOC mengulangi persekutuannya dengan Hitu untuk menyerang pertahanan Portugis di Ambon. Portugis pada akhirnya benar-benar menyertah sehingga bentengnya dikuasi dan diberikan nama baru ‘Victoria’ serta mengusir kaum misionaris Katholik. Di Ternate dan Tidore armada Spnayol menduduki daerah tersebut pada tahun 1606 M. kekuasaannya armada Spanyol di pula tersebut tidak luput dari serangan VOC Belanda yang ingin menguasai dan memonopoli semua daerah rempah-rempah.

Pada tahun 1610 M, diciptakan suatu jabatan Gubernur Jenderal untuk mengatasi urusan-urusan VOC di Asia dan dibentuk pula Dewan Hindia (Raad van Indie) sebagai penasehat dan pengawas gubernur. Selama masa jabatan tiga orang gubernur jenderal yang pertama (1610-1619 M), VOC menjadikan Ambon sebagai pusat markas, namun pada perkembangannya Ambon ternyata kurang strategis dalam peta perdagangan jalur-jalur rempah Asia. Oleh karenannya, VOC mengalihkan pandangannya ke Nusantara bagian barat. Pusat perdagangan pertama VOC sebenarnya telah dibangun di Banten  pad tahun 1603 M, namun mereka masih mendapatkan saingan yang kuat dari para pedagang Cina dan Inggris serta kekuasaan Kerajaan Banten.

Pada tahun 1604 M, pelayaran bangsa Inggris yakni Maskapai Hindia Timur dipimpin oleh Sir Henry Middleton. Ia berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Di wilayah tersebut mereka mendapatkan perlawanan dari pihak VOC, dan dimulailah persaingan sengit Inggris-Belanda untuk menguasai rempah. VOC pernah berusaha memaksakan perjanjian-perjanjian monopoli kepada para penguasa penghasil rempah-rempah namun banyak dari mereka justru berkomplotan dengan Inggris di Maluku. Bahkan selama 1611-1617 orang-orang Inggris mendirikan kantor-kantor dagang mereka di Sukadana (Kalimantan Barat), Makasar, Jayakerta, Jeparan dan Aceh. Konflik Inggris-Belanda semakin memuncak.

Uniknya, suatu kisah hubungan kerjasama pernah dilakukan oleh VOC dengan Inggris karena terpaksa pertimbangan diplomatic di Eropa pada tahun 1620 M. Pihak Inggris diperbolehkan membangun kantor dagangnya di Ambon. Namun, peristiwa ‘Pembantaian Ambon’ memupuskan kerjsama tersebut pada tahun 1623 M.  akibat dari peristiwa ini perlahan Inggris mulai mengalihkan diri ke kawasan Asia lainnya kecuali perdagangan mereka di Banten. Orang-orang Inggris tidak lagi menentang peranan penting orang-orang Belanda sampai akhir abad XVIII M.

VOC dan Jan Pieterszoon Coen

Keinginan VOC untuk mendapatkan suatu pusat pertemuan agar tercapai tujuan monopoli rempah-rempah semakin besar. Oleh karena itu langkah-lanngkah yang keras perlu dilakukan. Jan Pieterszoon Coen adalah sosok yang menerapkan langkah-langkah tersebut sebagai Gubernur Jenderal VOC (1612-1623 dan 1627-1629). Pada tahun 1614 ia telah memberitahu kepada Tuan-tuan XVII bahwa untuk menguasai monopoli perdagangan diperlukan perang. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Coen diikuti oleh para penggantinya. Salah satu kebijakan Coen dalam rangka menguasai satu sumber wilayah rempah ialah dengan membantai seluruh penduduk Pulau Banda padatahun 1620-1n dan berusaha mengganti mereka dengan orang-orang Belanda pendatang yang mempekerjakan tenaga kerja budak.

Jan Pieterszoon Coen
sumber:www.google.com

Jenderal Coen berhasil mendapatkan ‘pusat pertemuan’ untuk VOC. Pada bulan Mei 1619 M, Coen berlayar ke pelabuhan di Batavia (Jayakerta) dengan 17 buah kapal. Batavia (Jayakerta) merupakan salah satu pelabuhan paling baik di Jawa. Pada tanggal 30 Mei dia menyerang kota dan memukul mundur tentara Banten. Usaha merebut Batavia merupakan langkah paling penting sehingga tempat ini dapat dikuasai oleh VOC tanpa potensi ancaman yang cukup membahayakan didekatnya. Kota ini segera berkembang cukup pesat terutama jumlah penduduknya. Batavia dapat dikatakan sebuah keberhasilan Coen namun akibat pertambahan penduduk dan pembiayaan dalam pengelolaan, kota ini justru mengakibatkan masalah baru bagi VOC. Masalah keuangan untuk operasional adalah isu utama sehingga VOC mulai merosot sejak saat itu.

Ekspedisi Bangsa Inggris ke Nusantara

Bangsa Inggris sendiri memulai perjalanannya ke Nusantara sejak tahun 1577-1580 M yang dipimpin oleh Sir Francis Drake. Dia berhasil mendarat di Ternate dan membawa muatan Cengkih. Latarbelakang ekspedisi bangsa Inggris hampir menyerupai bangsa Belanda. Perang Belanda-Spanyol mengacaukan perdagangan rempah melalui Antwerp dan perdagangan rempah dengan Syiria dikacaukan oleh gangguan Spanyol-Portugis di selat Gibraltar. Pada tahun 1591 M Ratu Elizabeth I mendukung usaha keterlibatan Inggris dalam perdagangan rempah-rempah.

Sir James Lancaster dan George Raymond melakukan pelayaran di tahun 1591 M namun hanya Lancaster yang berhasil mencapai Aceh dan Penang. Ia berhasil pulang meskipun sempat terdampar di Hindia Barat sebelum dibantu oleh perompak Prancis. Di lain sisi, Raymond dan awak kapalnya terjangkit wabah penyakit sehingga tewas tenggelam bersama kapalnya di lautan. Di tahun 1600 M, Elizabeth I memberikan oktroi kepada Maskapai Hindia Timur (The East India Company)  dan Sir James Lancaster ditunjuk sekali lagi sebagai pemimpin ekspedisi ini. Dia tiba di Aceh pada bulan Juni 1602 M dan melanjutkan menuju Banten. Di banten ia mendaptkan izin membangun kantor dagang. Banten merupakan pelabuhan lada yang kaya dan orang Inggris dapat berkegiatan disini sampai tahun 1682 M. Lancaster kembali ke Inggris dengan membawa banyak muatan lada.

*Sebuah ringkasan buku karya M.C.Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowidjono, (Yogyakarta: UGM Press, 2011), hlm.37-46.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s