MENELISIK KEMBALI KEMUNCULAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA PERIODE 1500-1650 M : DARI ACEH, MATARAM HINGGA GOWA[ BAGIAN I ]

Bersamaan dengan kedatangan bangsa Eropa yang berbondong-bondong ke bumi Nusantara, muncul pula kerajaan-kerajaan bercorak Islam di berbagai wilayah pada kurun waktu 1500-1650 M. Secara garis besar kerajaan-kerajaan ini dapat dibagi dalam tiga wilayah Nusantara yakni Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Pada awal abad XVII M, Kerajaan Aceh di ujung utara pulau Sumatera muncul sebagai kekuatan baru. Sebelum tahun 1500 M Kerajaan Aceh tidak begitu menonjol, namun perselisihannya dengan Malaka Portugis dan Johor membuat Aceh mau tak mau harus berkembang dan bersaing.

Konflik Aceh, Johor dan Portugis

Penguasa Malaka, Sultan Mahmud, berhasil menegakkan kembali garis keturunannya di Johor pada tahun 1518 M, selepas kekalahan yang dideritanya di Malaka, saat  melawan Portugis. Namun, Kerajaan Johor mendapatkan serangan Portugis pada kurun waktu sepanjang 1518 hingga 1537 M. Penyerangan juga dilancarkan oleh Johor, Jepara, dan Aceh ke pelabuhan milik orang-orang Eropa pada rentang waktu 1513, 1537 hingga 1629 M, terutama Malaka (Portugis). Peperangan Johor versus Portugis pada akhirnya memaksa Sultan Alauddin Riayat Syah I (1529-1564 M), sultan Johor, untuk berkompromi dan menghasilkan kesepakatan persekutuan untuk memusuhi Aceh yang sedang muncul sebagai kekuatan baru di sisi utara Sumatera. Walapun bersekutu, Johor dan Portugis beberapa kali masih berkonflik terutama di tahun 1551 dan 1587 M. Keduanya saling menyerang satu sama lain.

Ilustrasi Kerajaan Aceh
sumber:www.google.com

Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530 M)

Sultan Kerajaan Aceh yang pertama adalah Ali Mughayat Syah (1514-1530 M). Pada masa pemerintahannya, banyak komunitas dagang Asia yang menetap di Aceh akibat dikuasainya Malaka oleh Portugis. Di tahun 1520 M, sultan mulai menginvasi daerah Daya, di pantai barat Sumatera bagian utara. Setelah itu, Ali Mughayat Syah mulai melakukan penaklukan ke pantai timur untuk menguasai daerah penghasil lada dan emas disana. Ia juga menaklukkan Deli dan pada tahun 1524 M, berhasil pula merebut Pedir dan Pasai setelah mengusir ganisum Portugis, ia juga mampu menyerang Aru. Sultan Ali Mughayat Syah pernah melakukan konfrontasi dengan armada Portugis dan memenangkan pertarungan tersebut.

Pada masa awal Kerajaan Aceh, Istana merupakan pusat militer dan pusat perekonomian serta menjadi pelabuhan pusat bagi kawasan lain. Aceh menjadi berpotensi untuk menjadi pengganti Malaka dan sebagai tempat penyaluran barang di Nusantara bagian barat. Perebutan kekuasaan terjadi diantara kerajaan lainnya. Salah satunya dengan Johor. Sejak tahun 1540 M, daerah Aru menjadi medan perang antara Aceh-Johor.

Sultan Salahuddin (1530-1537/39 M)

Pada tahun 1530 M kekuasaan Aceh beralih ke putra tertua Ali Mughayat Syah, Salahuddin (1530-1537/39 M). Salahuddin dianggap sebagai penguasa Aceh yang lebih lemah dari ayahnya. Pada tahun 1537, ia melancarkan suatu serangan terhadap Malaka namun mengalami kegagalan. Di masa ini pula ia diturunkan dari takhta melalui suatu kudeta. Ada yang berpendapat bahwa Salahuddin digulingkan oleh saudaranya, Alauddin Riayat Syah al-Kahar kira-kira tahun 1539 M. Kerajaan Aceh kemudian dipimpin oleh Sultan al-Kahar (1537/9-1571 M).

Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar (1537/9-1571 M)

Sultan ketiga Kerajaan Aceh, Alauddin Riayat Syah al-Kahar merupakan salah satu prajurit Aceh yang hebat saat itu. Pada tahun 1539 M, ia menyerang rakyat Batak di sebelah selatan Aceh setelahnya daerah Aru menjadi sasaran selanjutnya, namun dapat dipukul mundur oleh Johor sehingga Johor dapat berkuasa di sana selama 24 tahun berikutnya. Serangan tahun 1547 M ke Malaka juga gagal. Alauddin kembali mencoba menyerang di kurun waktu 1560-an dan berhasil merampok Johor serta membunuh Sultan Alauddin Riayat Syah I sehingga kekuasaan Aru dapat diambil alih. Tahun 1568 serangan kembali dilancarkan ke Malaka namun mengalami kegagalan. Pada tahun 1570 Nm, Sultan Alauddin al-Kahar memerintahkan armada untuk dikirim ke Johor untuk menekan dan menundukkan Johor. Namun, pertahanan Johor masih cukup kuat  sehingga perlahan pasukan menarik diri dari sana. Di satu sisi, kepemimpinan al-Kahar dikenang oleh tradisi Aceh sebagai penguasa yang melembagakan pembagian masyarakat Aceh kedalam kelompok-kelompok garis keturunan administrative (kaum dan sukee).

Masa Perpecahan Internal I

Kerajaan Aceh selama bagian akhir abad XVI M merupakan suatu kekuatan militer yang kuat dan penting di selat Malaka meskipun sering terjadi pertikaian internal. Namun, periode tahun 1571 hingga 1607 M setelah kepemimimpinan al-Kahar, pemerintahan dipegang oleh delapan Sultan, dua diantaranya bukanlah keturunan asli Aceh. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil salah satu pemimpin yang dapat memerintah cukup lama (1589-1604 M), sementara ketujuh lainnya hanya dalam hitungan bulan dan tahun saja. Kondisi Kerajaan Aceh di masa ini banyak pembunuhan, kudeta, ekpedisi militer yang gagal.

Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)

Sultan Iskandar Muda
sumber:www.google.com

Pasca masa perpecahan internal Kerajaan Aceh, kekuasaan selanjutnya dipegang oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Dibawah kepemimpinannya, Aceh berhasil mencapai masa kejayaannya. Ia mampu membangun kekuatan militer yang kuat dengan angkatan laut, memiliki kapal-kapal besar, pasukan kavaleri berkuda, pasukan gajah, sokongan artileri, dan pasukan infantri. Pada tahun 1612 M, daerah Deli mampu diambil alih dan Aru di tahun 1613 M. Setahun setelahnya pasukan militer Iskandar Muda berhasil mengalahkan Johor dan menawan Sultan Johor, keluarga kerajaan dan beberapa anggota VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Namun, Johor mampu membalas kekalahannya dengan memukul mundur Aceh setelah itu. Bahkan, Johor membentuk aliansi dengan daerah Pahang, Palembang, Jambi, Indragiri, Kampar, Siak untuk melawan Aceh.

Ekspedisi militer yang dilakukan oleh Iskandar Muda tetap masih berjalan setelah kekalahannya melawan Johor. Ia mampu mengalahkan Portugis di Bintan tahun 1614 M. Pahang juga mampu ditaklukan di tahun 1617 M, tiga tahun setelahnya Kedah berhasil dikuasai, bahkan di tahun 1623 pasukan Sultan berhasil merampok di ibukota Johor. Pada 1624/25 M, Nias berhasil direbut. Namun, upaya ekspansi yang dilakukan oleh Sulatan Iskandar Muda dapat dihentikan oleh Portugis di tahun 1629 M. meskipun menelan kekalahan, di tahun 1630/1 M dan 1635 M, Sultan mengirim pasukannya untuk menumpas pemberontakan ke Pahang.

Aceh dibawah kekuasaan Sultan Iskandar muda mampu menjadi pelabuhan penting dalam perdagangan di wilayah Sumatera bagian selatan. Namun, kerajaan ini juga mewarisi permasalahan utama di suatu negara kerajaan perdagangan pantai besar. Masalah bahan pangan menjadi penting manakala daerah pedalaman Aceh sukar dikuasai dan tidak mampu menghasilkan surplus yang memadai untuk menyuplai kebutuhan di pusat kota. Oleh karenanya, beberapa ekspansi yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda bertujun pula untuk mencari budak dan permasalahan pangan tersebut.

Kebijakan dalam pemerintahan yang pernah dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda ialah membentuk suatu kelompok bangsawan baru yang terdiri dari para panglima perang (hulubalang/uleebalang) yang menguasai daerah-daerah berpenduduk berdasarkan hak milik feodal. Hal ini menciptakan suatu kondisi yang mendukung terhadap kekuasaan Sultan saat itu. Namun, nampaknya situasi ini sedikit banyak menjadi salah satu faktor kemunduran Aceh setelah Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Thani Alauddin Mughayat Syah (1634-1641 M)

Hal yang cukup aneh adalah manakala Sultan Iskandar Muda memerintahkan  agar putranya sendiri dibunuh dan menunjuk Iskandar Thani Alauddin Mughayat Syah (1634-1641 M) sebagai pengganti selepas dirinya. Sultan Iskandar Thani notabennya adalah putra dari Sultan Ahmad Pahang meskipun telah menjadi menantunya. Pada masa pemerintahan Iskandar Thani, ekspansi militer berkurang bahkan tidak ada, ia lebih banyak mefokuskan di bidang pengetahuan agama Islam. Namun, selepas kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, kalangan elite Aceh mulai menegakkan pengaruh masing-masing sehingga menghambat munculnya penguasa yang kuat setelah  Sultan Iskandar Muda.

Masa Keruntuhan Kerajaan Aceh

Kalangan elite menempatkan putri Iskandar Muda, naik tahta dengan gelar Ratu Taj ul-Alam (1641-1675 M). Perjanjian dengan Johor di menyebutkan bahwa antara Johor-Aceh memiliki kemandiriannya masing-masing. Sejak perjanjian tersebut Johor mulai berkembang. Johor bekerjasama dengan VOC sehingga mampu mengusir Portugis dari Malaka. Namun, Aceh justru memasuki masa perpecahan sehingga tidak lagi menjadi kekuatan yang diperhitungkan di ujung utara Sumatera. Pada masa itu ada empat orang Ratu di periode 1641-1699 M dan kekuasaan Raja/Ratu terbatas hanya di Ibukota saja. Para uleebalang perlahan menjadi penguasa-penguasa turun-temurun dan kaum pemimpin agama justru sebagai sumber ancaman saat itu. Kerajaan dipandang hanya sebagai lembaga simbolis yang lemah. Sejak 1699 hingga 1838, kerajaan ini pernah diperintah oleh 11 sultan berbeda, 3 diantaranya merupakan orang Arab, 2 orang berdarah Melayu, dan 6 orang keturunan Bugis. Namun, semuanya tidak banyak berpengaruh bagi Kerajaan Aceh yang terlanjur tenggelam secara perlahan.

Ilustrasi Peperangan di Lautan
sumber:www.google.com

Hal yang menarik dari kerajaan-kerajaan di wilayah Malaka dan Sumatera ialah peranan agama Islam terkait dengan konflik kepentingan antara Aceh-Johor-Portugis dan kerajaan Islam lainnya. Peperangan melawan musuh terutama Portugis dan Bangsa Eropa bukanlah perang agama. Identitas agama bukanlah faktor yang menentukan. Perbedaan agama tidak menghindarkan Johor-Potugis untuk bersekutu. Ketika VOC nantinya datang, Johor justru dapat menjalin kerjasama dengan orang-orang Belanda yang menganut Protestan. Bahkan, antara Aceh-Johor justru saling menyerang, tidak bersatu dalam melawan orang-orang Eropa yang beragama masehi. Latar belakang agama nampaknya tidak dapat menjelaskan peperangan di antara ketiga kekuatan di sekitar wilayah Sumatera-Malaya tersebut. Hegemoni perdagangan dan perebutan kekuasaan jalur daganglah yang mungkin lebih logis menjadi sebab-musababnya peperangan. Sementara itu, komunitas dagang Asia masih tersebar di beberapa kawasan Malaya dan Sumatera setelah Malaka dikuasai Portugis kala itu.

*Sebuah ringkasan buku karya M.C.Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowidjono, (Yogyakarta: UGM Press, 2011), hlm.47-54.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s