MENELISIK KEMBALI KEMUNCULAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA PERIODE 1500-1650 M : DARI ACEH, MATARAM HINGGA GOWA [ BAGIAN II ]

Di saat Aceh mencapai kemajuannya, wilayah pantai utara Jawa ada Kerajaan Islam yang berdiri pada awal abad XVI M ini. Kerajaan tersebut adalah Demak yang berdiri di akhir abad XV M oleh Cek Ko-Po, seorang Cina. Ia memiliki putra bernama Rodim/Badaruddin/Kamaruddin. Orang yang mampu menegakkan hegemoni Demak pada masa itu ialah penguasa setelahnya. Penguasa Demak, Trenggana, yang diperkirakan memerintah dua periode 1505-1518 M dan 1521-1546 M. Di selang kurun waktu tersebut, Demak dipimpin oleh saudara ipar Trenggana dan Yunus keturunan Jepara. Pada masa pemerintahan Trenggana, kerajaan Majapahait sedang mengalami masa keruntuhannya.

Kerajaan Demak

Ilustrasi Masjid Agung Demak
sumber:www.google.com

Pada beberapa kronik yang menceritakan tentang Kerajaan Majapahit dikatakan bahwasanya Demak merupakan pewaris dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit disebutkan mengalami keruntuhannya pada akhir abad XIV M (1400 S/1478-9 M). Kerajaan Demak sendiri pernah melakukan upaya perluasan wilayah ‘jajahannya’ hingga ke kerajaan di Kediri dan berhasil menaklukkannya di tahun 1527 M. Daerah pedalaman yang masih menganut kepercayaan sebelumnya juga turut diupayakan untuk dikuasai. Ekspedisi setelahnya, Tuban dapat dikuasai di tahun yang sama dengan Kediri, kemudian daerah Madiun pada tahun 1529-1530 M, menyusul daerah Surabaya, Pasuruan, daerah Gunung Penanggungan, dan Malang pada medio 1530 M hingga 1545 M. Pada tahun 1546 M, Trenggana terbunuh di tahun 1546M dalam ekspedisinya ke daerah Panarukan.

Penguasa keempat Demak, Sultan Prawata (1546-1561 M) justru tidak banyak melakukan pendahulunya. Di masa pertengahan kedua abad XVI M ini dikatakan sebagai masa kemunduran karena harapan Demak untuk menguasai seluruh Jawa tidak terlaksana dengan baik. Kekuasaan administratif terpusat nampaknya tidak terjadi meskipun usaha-usaha penaklukan yang pernah dilakukan tidak dapat ditandingi oleh wilayah lain. Hegemoni Demak hanya terjadi dimasa Trenggana saja. Ada dugaan bahwa Kerajaan Demak hanya semacam federasi dari wilayah-wilayah taklukannya yang tidak mengikat. Penaklukkan yang dilakukan Demak hanya sebatas serangan perusakan suatu wilayah.

Hubungan Demak, Banten dan Cirebon

Ilustrasi Kerajaan Banten
sumber:www.google.com

Kerajaan Demak memiliki keterkaitan dengan kerajaan di daerah jawa bagian Barat, Banten dan Cirebon. Hal itu terkait juga dengan tokoh walisanga. Sunan Gunungjati konon dilahirkan di Pasai, Sumatera Utara, dan pernah melakukan haji ke Mekah pada 1524 M, kemudian menjadi adik ipar Trenggana penguasa Demak saat itu. Sunan Gunungjati bersama pasukan Demak berusaha menguasai daerah Banten sebagai suatu pusat perdagangan. Ia berhasil menguasai daerah tersebut dengan menundukkan penguasa lokal pada waktu itu. Sunda kelapa juga dapat dikuasai dan berganti nama menjadi Jayakerta atau Surakarta. Sejak saat itu daerah Banten dipimpin oleh Sunan Gunungjati sebagai vassal Demak. Namun, setelahnya daerah vassal mampu berdiri sendiri sebagai kerajaan baru. Sunan Gunungjati meluaskan pengaruhnya ke Cirebon dan mampu menjadi kekuatan baru yang mandiri juga setelahnya. Terkait dengan Sunan Gunungjati sendiri ada beberapa versi cerita tentangnya. Ada yang mengatakan bahw Gunungjati adalah Tagaril/Falatehan/Fadhillah Khan/Fatahillah. Namun, di naskah Purwaka Caruban Nagari yang membedakan sosok Fahdillah dan Gunungjati.

Kekuasaan Banten setelahnya dilanjutkan oleh, Hasanuddin (1522-1570 M). Ia berhasil memperluas daerah kekuasaan hingga ke Lampung, Sumatera Selatan sebagai penghasil lada sehingga mampu menjadikan Banten pelabuhan lada. Ia meletakkan dasar-dasar perekonomian bagi kemakmuran Banten. Penguasa selanjutnya adalah Molana Yusup (1570-1580), ia berhasil menaklukkan daerah Pajajaran sehingga pengaruh agama Hindu-Budha pun melemah. Hal itu membuat banyak kalangan elite Sunda akhirnya banyak yang memeluk agama Islam.

Adapun peranan penting dari daerah-daerah di Pulau Jawa selain Demak, Banten dan Cirebon ialah Kudus, Jepara, Gresik, Surabaya, Pasuruan. Kudus merupakan kota yang mulia bagi umat Islam Jawa. Kota ini sebagai pusat pengetahuan Agama Islam. Bahkan memperoleh nama Arab (al-Quds, Baitalmukadis). Hal tersebut terkait pula dengan adanya salah seorang tokoh pemimpin Sembilan wali, Sunan Kudus. Ia sebagai imam masjid Demak dan turut serta dalam penyerangan 1527 M ke ‘Majapahit’. Bangunan yang menjadi ciri utama kota adalah bangunan Masjid Kudus yang masih memperthankan arsitektur pra-Islam. Masjid ini didirikan sekitar 1549 M.

Kota-Kota Pelabuhan

Kota Jepara merupakan daerah pelabuhan dan dipimpin oleh seorang perempuan bernama Ratu Kalinyamat di akhir abad XVI M. Peran penting Jepara ialah ikut andil dalam upaya penyerangan-penyerangan. Mereka ikut melakukan serangan terhadap Malaka (Portugis) di tahun 1513 M saat dipimpin Raja Yunus dari Demak. Di tahun 1551 M, Jepara juga ikut membantu Johor dalam perlawanannya dengan Malaka, dan di tahun 1574 M mereka melakukan hal yang sama. Daerah pelabuhan lain yang cukup penting adalah Gresik. Menurut sumber Cina bahwasannya daerah ini dibangun pada abad XIV M oleh orang Cina dan menjadi penguasa di Gresik. Dikatakan oleh Tome Pires bahwa Gresik merupakan ‘permata Jawa dalam pelabuhan-pelabuhan perdagangan’. Gresik juga menjadi pusat pengetahuan Agama Islam dengan adanya Sunan Giri di daerah ini. Ia mendirikan garis keturunan keagamaan hingga 1680 M. Sunan Giri merupakan salah seorang Sunan yang berpengaruh besar terhadap runtuhnya ‘hegemoni’ Majapahit waktu itu. Ia dianggap pula berpengaruh terhadap penyiaran agama Islam ke pulau lain semisal Lombok, Makasar, Kutai dan Kalimantan Tenggara melalui ketugasan hubungan guru-murid. Bahkan ada hubungan guru-murid terhadap penguasa Ternate, Zainal Abidin (1486-1500 M), dan pemimpin Hitu, Kakiali.

Ilustrasi Kota Pelabuhan
sumber:www.google.com

Daerah pelabuhan lain ialah Surabaya. Kota pelabuhan dalam perdagangan besar awal abad XVI dan XVII M. Kota ini berdekatan dengan Pulau Madura yang masih mengalami proses islamisasi di abad XVI M. Madura perlahan menjadi pemeluk agama Islam semenjak keruntuhan kekuatan kerajaan Hindu-Budha di tahun 1527 M. Sementara itu, di ujung timur Jawa, Pasuruan menjadi satu-satunya kota Islam yang penting di abad XVI M kaena banyak daerah disekitarnya masih menganut kepercayaan Hindu. Periode 1540 hingga 1590-an Masehi pertempuran melawan Kerajaan Blambangan turut mempengaruhi masuknya agama Islam di daerah. Sekitar tahun 1600/1 M ibukota Blambangan berhasil dikuasai oleh penguasa Pasuruan.

Kerajaan Pedalaman

Di daerah pedalaman Jawa bagian tengah pada pertengahan kedua abad XVI M muncul dua kekuatan kerajaan baru. Daerah-daerah pertanian dan subur dipilih oleh kerajaan-kerajaan ini sebagai pusat politik kekuasaan mereka hingga abad XIX M. Hal ini menandai kemunculan suatu kerajaan di daerah pedalaman Jawa yang berbeda dari kerajaan-kerajaan sebelumnya yang berada di daerah pesisir pantai. Ciri yang unik dari kerajaan yang berada di pedalaman ialah kurang begitu terlibat dalam perdagangan laut.

Kerajaan Pajang merupakan kerajaan yang muncul pertama di daerah pedalaman Jawa. Berdasarkan tradisi sejarah Jawa menyatakan bahwa Pajang adalah pengganti dari garis legitimasi keturunan Kerajaan Majapahit dan demak. Berdasarakn kisah dalam tradisi Jawa pula bahwasannya Sunan Kudus berhasil menaklukkan daerah Pengging/Pajang sekitar 1530-an Masehi. Menantu Sultan Trenggana yang bernama Jaka Tingkir merupakan keturunan Pengging dan secara gaib ia mendapatkan legitimasi sebagai utusan untuk memerintah daerah itu, Pajang sebagai vassal Demak. Setelah Sultan Trenggana meninggal di tahun 1546 M, Jaka Tingkir memperluas daerahnya dan konon ia telah dilantik sebagai raja Pajang oleh Sunan Giri pada tahun 1503 S (1581-582 M) atas persetujuan penguasa-penguasa Islam lainnya.

Ilustrasi Kerajaan Pajang
sumber:www.google.com

Di kerajaan pedalaman lainnya, kisah terbentuknya Kerajaan Mataram memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Pajang. Babad Jawa menyebutkan bahwa seorang bernama Kyai Gede Pamanahan telah berhasil melaksanakan tugasnya untuk Jaka Tingkir, raja Pajang, yakni membunuh Arya Penangsang, penguasa Jipang sekitar tahun 1540/1550 M. Ia dijanjikan akan mendapatkan hadiah tanah (kekuasaan) di bumi Mataram, namun Jaka Tingkir lupa akan hal itu sehingga Pamanahan meminta Sunan Kalijaga untuk turut membantu dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Pada akhirnya daerah yang dijanjikan diberikan oleh Jaka Tingkir dan sekitar tahun 1570 M, Pamanahan menempati daerah Mataram dengan sebutan Kyai Gedhe (Ki Ageng Mataram). Konon Ki Ageng Pamanahan masih memiliki garis keturunan raja terakhir Majapahit meskipun ada kemungkinan bahwa hal itu untuk melegitimasi kekuasaannya saja di bumi Mataram. Kekuasaannya di Mataram kemudian dilanjutkan oleh putranya, Panembahan Senapati Ingalaga (1584-1601 M) yang digambarkan sebagai pemrakarsa perluasan wilayah dan pelepasan stastus Mataram sebagai vassal Pajang.

Menurut cerita dalam babad tanah Jawa. Senapati melakukan tapabrata dan meminta dukungan Ratu Kidul sebagai pelindung khusus Kerajaan Mataram. Menurut cerita, bahwasanya Ratu Kidul merupakan sosok putri raja Pajajaran yang dikutuk akibat menolak perjodohan dari ayahnya sehingga ia menjadi rau kaum roh halus di perairan Samudera Hindia. Dikisahkan bahwa Senapati berada dibawah air selam tiga hari sehingga mendapatkan dukungan dari dewi laut ini. Setelah menyelesaikan misinya, Senapati menemui Sunan Kalijaga dan mendapatkan nasehat darinya untuk membangun benteng di sekeliling istana. Cerita-cerita kronik supranatural ini dianggap oleh sejarawan hanya sebagai pengungkapan terbentuknya kekuatan militer.

Ilustrasi Kerajaan Mataram
sumber:www.google.com

Pada masa pemerintahan Senapati banyak terjadi ekspedisi ke berbagai wilayah untuk memeperluas daerah kekuasaannya. Hal ini terlebih lagi ketika Sultan Pajang, Jaka Tingkir meninggal di tahun 1587/8 M. Senapati mengambil semua simbol dan tand-tanda keramat Kerajaan Pajang. Ia memulai serangannya ke arah utara, arah pantai dan arah timur lembah sungai Sala dan Madiun seperti Jipang, Ponorogo dan Jogorogo. Bahkan berdasarkan sumber Belanda, pernah terjadi pertikaian Banten-Mataram sekitar tahun 1597 M. Di tahun 1600 M, Mataram juga dapat meredam pemberontakan di Pati. Pada tahun 1598 -1599 M, Senapati menyerang Tuban meskipun dapat dihalau. Pasuruan di tahun 1591 M dan 1600 M meskipun ada yang menduga bahwa Pasuruan hanya menyerah dan mengakui kekuasaan Mataram saja tanpa melakukan perlawanan secara fisik. Hal itu terkait dengan kondisi saat itu sedang terjadi pertarungan sengit antara Surabaya dan Mataram. Pasuruan hanya menyelamatkan diri dari situasi perebutan antara keduanya yang merugikan kondisi wilayah. Senapati mengakhiri kisahnya di tahun 1601 M, ia meninggal dan dimakankan di Makam Kota Gede. Dibawah kepemimpinannya, Mataram telah menjadi suatu kekuatan besar saat itu, terutama di pedalaman Jawa Tengah meskipun belum banyak daerah yang dikuasai karena masih adanya kekuatan lain di sisi utara dan timur Jawa seperti Surabaya, Cirebon, dan Banten yang masih kuat.

Kepemimpinan selanjutnya Kerajaan Mataram dilanjutkan oleh putranya, Panembahan Seda Ing Krapyak (1601 M-1613 M). Pada tahun 1602 ia melakukan pertempuran dengan penguasa Demak waktu itu, Pangeran Puger. Panembahan Krapyak mampu mengatasi perlawanan dari Pangeran Puger sekitar tahun 1605 M. Pangeran Puger dihukum dan dikirim untuk menjalani kehidupan sebagai santri di Kudus. Pemberontakan juga dilakukan oleh saudara raja di Ponorogo dan Kediri tahun 1607-1608 M namun dapat dikalahkan. Di tahun 1610 M, Panembahan Krapyak mulai melancarkan serangan secara periodic ke Surabaya hingga 1613 M sehingga memperlemah dasar-dasar kekuatan ekonomi Surabaya. Di tahun 1613 M, Panembahan juga menjalin kerjasam dengan VOC untuk melawan musuh yang sama yakni, Surabaya. VC mendapatkan ijin pos dagang di daerah kekuasaan Mataram di Jepara. Namun, di tahun tersebut juga Panembahan Seda Ing Krapyak meninggal, kepemimpinannya digantikan oleh anaknya, Sultan Agung (1613-1646 M). Raja Sultan Agung merupakan raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Mataram.

*Sebuah ringkasan buku karya M.C.Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowidjono, (Yogyakarta: UGM Press, 2011), hlm.54-65.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s