MENELISIK KEMBALI KEMUNCULAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA PERIODE 1500-1650 M : DARI ACEH, MATARAM HINGGA GOWA [ BAGIAN III ]

Pencapaian Raja Mataram Sultan Agung (1613-1646 M)

Sultan Agung Mataram
sumber:www.google.com

Raja Mataram yang terbesar dalam sejarah adalah Sultan Agung (1613-1646 M), kebesaran yang ia tunjukkan melalui berbagai penaklukkan dan perluasan wilayah di Jawa. Pada awal kepemimpinannya ia menyerang Surabaya bagian selatan, Ujung Timur, Malang dan Pasuruan di tahun 1614 M. Selanjutnya ia melanjutkan serangan ke Wirasaba yang merupakan daerah strategi sejak mas Majapahit di tahun 1615 M. Penaklukkan yang dicapai oleh Mataram membuat Tuban dan Surabaya bersekutu dan merencanakan serangan melalui daerah Siwalan (Pajang). Namun, kecerdikan siasat perang yang dilakukan oleh Mataram mampu menghancurkan rencana penyerangan tersebut di tahun 1616 M.

Kekuatan militer Mataram selanjutnya mampu menguasai daerah Lasem, Pasurusan, dan Pajang di tahun 1616-1617 M.  Tiga tahun setelahnya ia mampu menduduki Tuban yang merupakan sekutu Surabaya. Sasaran utama penyerangan selanjutnya ialah Surabaya. Pada tahun 1620-1625 M secara berulang pasukan Mataram mengepung Surabaya dan menghancurkan hasil-hasil panen disana. Bakan, sungai Berantas dibendung supaya pasokan air ke kota terhambat. Di seberang laut Jawa sekutu Surabaya yang lain, Sukadana, berhasil ditaklukkan pada tahun 1622 M sehingga suplai kebutuhan terhambat. Di tahun 1624 M, pasukan Mataram pimpinan Sultan Agung ini mampu menguasai daerah Madura yang merupakan penyuplai kebutuhan pokok pula bagi Surabaya. Hal ini berakibat kepada kelaparan yang dialami Surabaya sehingga mereka menyerah di tahu 1625 M.

Surabaya setelah kekalahannya dengan Mataram ialah menjadi daerah vassal. Penguasa sebelumnya, Jayalengkara, dibolehkan tinggal disana sebagai wakil Mataram. Namun, ada yang mengatakan bahwa, ia meninggal setelah terjadi penaklukkan. Sementara putranya, Pangeran Pekik, diwajibkan untuk menjadi petapa di makam suci Sunan Ngampel-Denta. Di sisi lain, Madura setelah penaklukkan oleh Mataram menjadi lebih terpusat dengan ibukotanya berada di Sampang. Sistem pemerintahannya menggunakan garis keturunan kepangeranan Madura. Hal itu mengubah tradisi sistem pemerintahan sebelumnya yang masih terbagi-bagi diantara beberapa penguasa lokal. Sejak 1678 M para pangeran bergelar nama, Cakraningrat, yang cukup berpengaruh hingga tahun 1740-an masehi.

Daerah Kekuasaan Mataram
sumber:www.google.com

Kerajaan Mataram dibawah kepemimpinan Sultan Agung mencapai kejayaannya karena mampu menguasai hampir seluruh pulau Jawa terutama Jawa tengah dan Jawa Timur kecuali Banten dan Blambangan di Jawa bagian barat dan timur. Dia mampu menjalankan suatu sistem pemerintahan yang terpusat dan sistem perwakilan (vassal) di setiap daerah secara seimbang untuk beberapa waktu meskipun tetap menggunakan kekerasan untuk menjalankan kekuasaannya.Pada tahun 1614-1622 M, Sultan Agung membangun komplek kerajaan barunya di Karta. Ia juga memilih menggunakan gelar, Susuhunan setelah penaklukkan di Madura pada tahun 1624 M. Periode 1625-1627 merupakan masa kejayaannya. Pengaruh kekuasaan Mataram tidak hanya di Jawad an Madura saja, pada tahun 1622 pasukanMataram dibawah pimpinan Sulatan Agung mmapu menguasai daerah Sukadana, Palembang, dan Banjarmasin serta Makasar merupakan sekutu Mataram dalam hubungan tukar menukar utusan.

Namun, setelah masa puncaknya, muncul suatu kebencian yang mendalam antara wilayah pedalaman dan pesisir akibat tidak terlalu diperhatikannya daerah pelabuhan-pelabuhan meskipun mereka telah membayar pajak ke pusat kekuasaan di daerah pedalaman. Sultan Agung lebih memilih dan memprioritaskan daerah pedalaman dengan tidak dipindahkannya istana ke daerah pesisir meskipun jalur perdagangan dapat dikembangkan disini. Ada sebuah anggapan bahwa hal ini terkait dengan kepercayaannya tentang Ratu Kidul.  Di tahun 1625-1627 justru muncul pula epidemi penyakit yang melanda Mataram sehingga menyebabkan banyak penduduk yang mati.

Hubungan dengan VOC

Di sisi lain, musuh luar bangsa, VOC, telah berada di Nusantara yang lambat laun menjadi ancaman kedaulatan kerajaan. Sejak awal hubungan VOC-Mataram tidaklah akur. Di awal-awal kedatangan Belanda, mereka pernah mengutus duta untuk menyampaikan ucapan selamat ke raja Mataram, namun hal itu tidak disambut baik oleh Sultan Agung. Kebutuhan VOC terhadap beras Jawa tidak dapat diakomodasi oleh Sultan, bahkan di kondisi paceklik sekitar 1618 M ia memerintahkan untuk melarang penjualan kepada pihak VOC. Berbagai peristiwa saling memusuhi antara VOC-Mataram berulangkali terjadi di kurun waktu ini. Penaklukkan J.P. Coen di Batavia pada tahun 1619 cukup membuat perubahan hubungan antara Mataram-VOC. Sultan Agung mengubah prioritas ancaman dan beralih ke pihak VOC setelah sepuluh tahun lebih memproritaskan ancaman penguasa kerajaan lain di Nusantara. Hubungan VOC-Mataram pernah melunak di tahun 1622 M, saat itu tawanan VOC dibebaskan dan mendapatkan kebutuhan beras sesuai kebutuhan. Namun, kerjasama antara VOC-Mataram tidaklah berjalan mulus karena beberapa kali keduanya masih terlibat konflik. VOC pernah menolak membantu angkatan laut pasukan Mataram dalam rangka melawan Surabaya.

Ilustrasi Pasukan Mataram dan VOC
sumber:www.google.com

Pada tahun 1628, pasukan Mataram mulai merencanakan serangan ke pihak Belanda, VOC. Pasukan pertama berada di Batavia sejak bulan Agustus yang disusul oleh pasukan selanjutnya di bulan Oktober, namun serangan ini gagal sehingga banyak dari panglima prajurit Mataram dipenggal karena dianggap gagal menjalankan misinya. Serangan Mataram terhadap Belanda tetap dilakukan setahun setelahnya, namun ekspedisi kedua ini justru menjadi penderitaan bagi pasukan Mataram yang telah melakukan perjalanan sejak bulan Mei. Pasukan Mataram dapat dihalau dan dihentikan oleh VOC, mereka mampu menghancurkan bahan-bahan pangan pasukan Mataram sehingga banyak pasukan kelaparan dan tercerai berai. Beberapa waktu setelahnya, 20 September 1629 petinggi VOC, Jan Pieterszoon Coen, justru meninggal akibat sakit yang dideritanya. Kekalahan terhadap VOC dikarenakan tida siap dan seimbangnya kekuatan militer dan logistic yang dibawa oleh apsukan Mataram. Kemenangan VOC cukup melegakan bagi Kerajaan Banten yang tidak lagi ambil pusing memikirkan ancaman Mataram.  Hal itu menyadarkan Sultan Agung bahwa perlu menjalin persekutuan dengan pihak lain untuk mengalahkan VOC, namun saat itu pihak Portugis tidak begitu kompeten untuk iku membantu usaha tersebut. Pertempuran antara Mataram-VOC dengan lingkup yang lebih kecil di sepanjang pantai tetap berlangsung pada kurun waktu setelah kekalahan ekspedisi perang kedua pasukan Mataram di Tegal dan Cirebon. Pada akhirnya, Sultan Agung memang harus lebih bersikap lunak dan kooperatif terhadap pihak VOC.  Kapal-kapal Mataram tidak menganggu pelayaran VOC lagi namun perdamaian nampaknya memang sulit terjadi antara VOC dan Mataram.

Kekalahan perang melawan VOC, membuat kondisi Kerajaan Mataram mulai goyah sehingga beberapa kali timbul pemberontakan. Upaya memperkuat kerajaan dilakukan dengan menguasai kembali daerah yang mulai goyah dan perluasan kekuasaan. Pada kurun waktu 1630-1636 terjadi pemberontakan di Sumedang dan Ukur, Jawa Barat namun dapat dikendalikan kembali. Kemudian di Tembayat dan Situs Giri, Surabaya terjadi pada tahun 1630 dan 1633 M yang keduanya dilakukan oleh komunitas pemuka agama di daerah tersebut yang tidak senang dengan kepemimpinan Sultan Agung. Situs Giri dapat dikendalikan lagi di tahun 1636 M, perlawanan terhadap kaum agama sebenarnya cukup merepotkan pasukan Mataram karena mereka masih terlihat perasaan enggan untuk melawan orang-orang suci.

Di tahun 1633 M, pasukan Mataram merangsek masuk ke daerah Blambangan, Panarukan, dan Blitar. Perlawanan yang dilakukan oleh pihak Blambangan meminta bantuan dan melibatkan Kerajaan Bali, tahun 1635 serangan besar-besaran dilancarkan oleh Mataram kemudian dibalas oleh laskar kerajaan Bali. Di kurun waktu 1636-1640  pasukan Mataram kembali menyerang hingga akhirnya daerah Blambangan dapat dikuasai meskipun pengaruh Mataram di daerah ini tidak terlalu kuat. Pada tahun 1639 M, Sultan mengutus duta ke Mekah setelah kemenangannya di Blambangan. Ia berusaha mencari semacam legitimasi kekuasaannya dengan gelar nama baru dari Mekah. Sultan Agung mendapatkan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani. Hal ini ditengarai juga untuk menandingi hegemoni Kerajaan Banten di ujung barat Jawa.

Pemakaman Raja-Raja di Imogiri
sumber:www.google.com

Di masa akhir pemerintahannya, Sultan Agung bersiap menghadapi kematiannya. Oleh karena itu ia membangun situs pemakaman di daerah bukit Imogiri sekitar tahun 1645 M. Kronik sejarah menyebutkan bahwasannya dua tahun sebelum kematiannya Ratu Kidul mendatangi dan meramalkan bahwa kematiannya telah dekat. Di kurun waktu 1940-an sendiri di lingkungan kerajaan terdapat wabah penyakit, sangat dimungkinkan bahwa Sultan Agung meninggal karena wabah tersebut. Raja Mataram terbesar ini meninggal pada awal tahun 1646 M. Tampuk pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada putranya, Susuhunan Amangkurat I (1647-1677 M).

Kondisi di Sulawesi Selatan (Gowa)

Daerah di luar Jawa dan Sumatera sebagian besar tidak banyak diketahui dan didokumentasikan secara baik. Sumber-sumber yang berbicara mengenai kerajaan-kerajaan di wilayah ini nampaknya sulit ditemukan. Kekuasaan di Bali dan Makassar pada abad XVII M kurang begitu diketahui secara rinci. Hanya ada sedikit penjelasan mengenai daerah di Sulawesi Selatan tentang kerajaan yang berkuasa disana. Di Sulawesi Selatan terdapat dua suku bangsa serumpun, Makasar dan Bugis. Keduanya merupakan suku yang terkenal akan reputasinya sebagai prajurit-prajurit tangguh. Pada abad XVI M Sulawesi Selatan masih menganut kepercayaan nenek moyang. Di tahun 1530 M mulai ada sebuah kerajaan suku bangsa Makassar yaitu Kerajaan Gowa. Pada pertengahan abad XVI M mereka mulai melakukan penaklukkan ke beberapa wilayah sekitarnya dan mulai mengukuhkan diri sebagai pemimpin kekuatan wilayah dan perdagangan saat itu. Bangsa Portugis di tahun 1560-an sudah ada di wilayah ini berusaha berdagang dan melakukan kristenisasi pula disana.

Peninggalan Kerajaan Gowa di Sulawesi selatan
sumber:www.google.com

Pada tahun 1605, Raja Gowa sudah memeluk agama Islam. Ia mengajak kerajaan lainnya, Bone untuk sama-sama memeluk agama Islam. Namun, tanggapan raja Bone menolak dan akhirnya timbul peperangan antara keduanya di kurun waktu 1608-1611 M. Kerajaan Gowa merupakan kekuatan yang cukup menonjol di Sulawesi Selatan, namun nampaknya masih menggunakan sistem dominasi militer yang kuat bukan sebuah sistem dominasi kepemimpinan terpusat yang ketat. Hal ini membuat setiap wilayah yang ditaklukkan memiliki identitasnya masing-masing dan otonominya sendiri. Di saat yang sama VOC mendirikan pusat perdagangan di  Sulawesi Selatan pada tahun 1609 M. Hal ini cukup menganggu keberadaan kerajaan Gowa sehingga Sultan Gowa saat itu bekerja sama dengan pihak asing lain, Inggris, Prancis, Denmark, Spanyol, Portugis untuk mencegah upaya VOC menguasai perdagangan rempah. Pada tahun 1615 M, terjadi peperangan yang terbatas antara Gowa dan VOC sehingga muncul beberapa perjanjian perdamaian yang berhasil disepakati  pada bulan Juni 1637, Desember 1655, Agustus-Desember 1660 M. Kesepakatan yang dilakukan tidak menghapus posisi penting Gowa terhadap VOC sehingga pada tahun 1660 M pihak Belanda mulai menjalin kerjasama dengan pihak Bugis untuk melawan Gowa.

**Sebuah ringkasan buku karya M.C.Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowidjono, (Yogyakarta: UGM Press, 2011), hlm.65-75.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s